Pagi yang cerah rupanya tak secerah hati Daus
hari ini, hatinya yang mendung memberi efek yang kurang enak dilihat dari
wajahnya, kalo diibaratkan bagai baju kumal yang sudah sebulan tak di setrika.
Raut wajah Daus tidak mampu disembunyikannya dari saudara-saudara
seperjuangannya di LDK (Lembaga Dakwah Kampus) meskipun ketika berkumpul
bersama demi membahas acara yang akan dilaksanakan Daus masih berusaha
tersenyum, yah, walaupun senyumannya lebih mirip ringisan daripada senyuman.
Jelas saja sikap aneh Daus disadari oleh yang lain, hanya saja mereka tidak
ingin mengganggu Daus untuk saat ini. Setelah berunding, diputuskanlah Fadli
sebagai ketua umum di LDK yang akan mencoba mendekati Daus dan bertanya apa
yang sedang terjadi.“Us, antum kenapa?”
Tanya Fadli seraya duduk di sebelah Daus yang sudah beberapa hari salalu
terlihat melamun. “eh, mas Fadli, ga papa mas, Cuma lagi mikir aja”sahut Daus sedikit terkejut dengan kehadiran
Fadli disebelahnya. “mikirin apa toh? Serius banget” sahut Fadli santai.
Sebenarnya Daus sedang memikirkan, bagaimana caranya pulang ke BanjarBaru,
motor ga punya, duit sudah tidak tersisa mau minta tolong anterin malu soalnya
dari semua anggota ikhwan LDK cuma dia yang selalu menyusahkan. “he, malu mas
ceritanya” Daus ngeles.